Kumpulan Puisi Malam

By: Dina Rahmadhany M

Pijaran rembulan berbaur kelam, nyanyian jangkrik nan pilu, hembuskan lara yang terselimuti gelapnya malam.

Gerimis dalam gelap sembunyikan isak, hembusan angin menusuk tulang, pijaran asa yang tak terkuak.

Kusibakkan helaian gundah. Kelamnya tersirat jelas. Cabikan perih bersimbah pilu.  Tetapi, mengapa kau tak melihat?

Pada akhirnya, tersaruk aku bangun dari rapuhku, diterangi  bintang yang mengerling syahdu. Malam, kusandarkan lelahku padamu.

Advertisements

Gloomy feeling?

Catatan ke tiga yang dipindahkan dari facebook.

February 25, 2010 at 6:54pm

Aku tak tahu bagaimana aku harus
merangkai kata, bagaimana harus
bersuara. Hamparan bimbang
menyelubungi benak. Bagai tak tersisa ruang yang tak ada dia.

Getaran hati berdenyut saat ku dengar lantunan kalamNya. Membuatku lebih jauh jatuh
kedalam bimbang. Mati rasa, apakah akan kurasakan?

Bertubi-tubi harap datang dan dihempaskan. Bagai air yang tak selalu tenang, pijakanku masih
goyah setelah ku berusaha bangkit.

Memikirkan dia tak tahu apa
yang kurasa. Cemas, sedih, harap, takut, bahagia… Melebur menjadi satu.

Kucoba menerka apa yang tersembunyi, tetapi tetap saja, kedunguanku tak menghasilkan
apa-apa. Ternyata memang beginilah takdir. Begitu cepat ia
datang, membuatku terhanyut dalam kagum, lalu hilang tanpa bekas.

Tak sadar,kurindukan kata-katanya yang tak tahu mengapa membuatku senang. Aku sadar, aku hanya baru mengenal, tak tahu ia siapa dan bahkan tak pernah mendengar suaranya, ataupun membayangkan rupanya.

Oh Tuhan, sungguh lemahnya
aku, apa yang Kau rencanakan?

Aku menghibur diriku sendiri, bicara dengan hati, alihkan pikiran dengan banyak hal.

Walaupun bimbangku reda, aku
belum bisa lari dari rasa yang
membingungkan. Jalanku masih
terlunta-lunta, pijakanku selalu ngilu, digoyahkan rasa sepi…

Curahan hati…

Just a feeling

Catatan kedua yang dipindahkan dari facebook.

February 8, 2010 at 9:14pm

Kala hati tersanjung, senyum merekah, dan harap menggunung.

Bisik hati kecil yang mengingatkanku pada cinta yang Maha sempurna, ku urungkan gejolak ombak yang menerpa. Ku biarkan mengalir seperti air sungai. Menganak-cabang sampai waktunya ke laut.

Kupu-kupu indah yang selalu menghibur, menemani disaat bosan, menguatkan disaat rapuh. Kebimbangan akannya pun berkelebat di benak.

Aku yang tak tahu apa yang akan terjadi. Hanya menggantungkan rencana yang ku tulis dengan pensil, dan biarkan Sang Pemilik menggunakan penghapus untuk menghapus rencana yang kurang baik, dan menggantinya dengan rencana yang indah.

Sahabat tempatku berkeluh kesah, tak ada habisnya ku tersenyum atas kasihmu. Bantu aku susun kepribadianku.

Dan untuk yang membuatku berharap, hanya doa yang bisa kupanjatkan dan dakwah ku sebarkan agar dunia ini lebih indah..

Karat

Hanya memindahkan catatan usang yang pernah saya tulis di facebook.

KARAT

December 19, 2009 at 7:18pm

image

Ketika aku terbangun dari
mimpi, kembali ku harus berjuang lewati hari.
Berharap sang khalik terus memberi berkah dalam hidupku.

Tapi aku malu, sangat malu.. Aku kesal, sangat kesal..
Dan aku merasa sangat bodoh.
Ketika aku menyianyiakan berkah yg Ia berikan.

Ketika aku melalaikan
panggilanNya, ketika aku tahu bahwa itu dosa tapi aku tetap melakukannya.
Ketika aku bertaubat dan esok harinya berbuat lagi.

Aku seperti dilempari
lumpur, lalu dibersihkan, dilempari, dibersihkan lagi.

Aku takut menjadi karat..

Ya Rabb, hamba
sungguh hina dihadapanMu, yang hanya bisa ucapkan maaf..