Sorry

Author : @DinaRahmadhany

Title     : Sorry

Genre  : Romance

Length : One-Shot

PS        : Ini ff pertama yang pernah aku publish. Maaf masih banyak kekurangan dan selamat membaca…

 

 

Han Jiyoung POV

 

Pergi…  hanya itu yang kuinginkan. Dan semua ini  akan  berakhir, tak perlu lagi kurasakan sakit bertubi-tubi. Menghilang secepatnya dari dunia yang memuakkan ini.

 

Ku pijit punggungku yang terasa kaku, tetapi anak itu menggangguku dengan tangisannya. Kuhampiri dia dan ku dudukkan ke pangkuanku.

”Apa kau lapar? Aku bawa makanan, maafkan nuna pulangnya lama ya,” ucapku sambil membelai rambutnya. Ia tersenyum lalu memelukku erat .

“Nuna, bogoshipoyo… aku tak suka disekolah, mereka selalu menjahiliku,” keluhnya. “Jangan hiraukan mereka, kalau kau balas, mereka akan semakin menjahilimu, aratchi?”.

 “Ne nuna.”

 

Ya, itu adikku Lee Donghae.  Usianya masih 9 tahun, sebenarnya ia bukan adik kandungku. Ia anak selingkuhan ayahku, ayah sekarang dipenjara karena korupsi, ibuku meninggal setahun yang lalu, dan selingkuhan ayahku itu, pergi entah kemana. Sebenarnya anak ini salah satu penyebab kematian ibuku. Ibuku sakit jantung dan kaget mengetahui ayahku selingkuh dan punya anak. Namun, entah kenapa aku tak bisa membencinya. Ia tak tau apa-apa, sama sepertiku.

.

.

“BRAAAK!”  Terdengar suara pintu dibanting.

”Ada apa ajusshi, kenapa anda masuk kerumahku seperti ini?” Tanyaku. Tiba tiba ia mendorongku, ”Hey, kau Han Jiyoung, anak Han Sungji kan?” Tanyanya.

”I… Iya?”

”Ayahmu berhutang  lima juta won dengan bosku, seminggu lagi kami akan kembali lagi, ingat!” Jelasnya.

Aku hanya terdiam  melihat kepergiannya, lima juta won? Dari mana kudapatkan itu? Setiap hari aku banting tulang untuk makan dan sekolah, menjadi petugas kebersihan dan pengantar koran. Sekarang ditambah lagi hutang? Oh Tuhan, apa kau mau membunuhku pelan-pelan? Kenapa tidak sekarang saja? Dan aku akan bebas.

 

Ku langkahkan kakiku menuju kelas. Di koridor kelas, dulu biasanya banyak sekali teman yang menyapaku, bahkan banyak namja yang sengaja menungguku datang untuk sekedar melihatku.  Namun, sekarang ya sekarang, setelah aku  jatuh miskin dan ayahku dipenjara, melihatku saja tidak, bahkan mereka menghindariku. Apa itu sahabat? Orang yang ku anggap sahabat satu-satunya bukannya membantu malah menjauhiku. Sahabat itu omong kosong! Ya aku benci sahabatku, disaat semua orang meninggalkanku dan mengejekku, mereka diam saja, malah  menghindariku. Sepertinya ditinggalkan dan diacuhkan sudah menjadi takdirku sejak dulu. Sekalipun terhadap orang yang pernah ku cintai setengah mati. Bahkan rasanya masih sangat jelas. Walaupun ingatan tentangnya sudah ku kubur dalam-dalam, luka yang ditinggalkan masih berbekas.

Aku duduk seperti biasa di barisan paling belakang,sendiri. Dulu Hyerin disampingku. Namun ia pindah tempat setelah kejadian itu menimpaku. Apakah aku terlihat terlalu menjijikan baginya?

”Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Baiklah, sekarang perkenalkan dirimu.” Samar-samar ku dengar suara Seonsaengnim, sambil tetap fokus pada coretan abstrak yang kubuat di selembar kertas kosong.

“Annyeonghaseyo, Cho Kyuhyun imnida, mohon bantuannya.”

 

DEG!

 

Apa dia bilang? Cho Kyuhyun? Ku tolehkan kepalaku. Dan pandangan kami bertemu.

Ia  melangkah ke tempat duduk kosong di sebelahku. Tanpa melirik ke arahku sedikitpun, ia memfokuskan pandangnya  ke papan tulis. Aku menelan ludah, seketika rasanya paru-paruku tidak mampu mengambil oksigen yang ada. Sekuat tenaga aku menormalkan raut muka dan perasaan yang berkecamuk. Menghela napas dalam-dalam, aku meyakinkan diriku sendiri. Aku tidak boleh hancur, kenangan itu telah terkubur dalam. Bahkan keberadaan orang ini yang secara mengejutkan tiba-tiba datang dan duduk di sampingku tidak akan membuatku jatuh… Lagi… Tidak akan.

.

.

Terhitung hari ke-lima sejak para penagih hutang itu datang ke rumahku. Rasanya aku ingin kabur, lari, dan menangis saking takutnya. Aku sudah benar-benar lelah bekerja tanpa henti, tetapi mana bisa kudapatkan uang segitu banyak? Aku takut pulang kerumah, tetapi kalau Donghae sudah dirumah bagaimana, nanti mereka akan melakukan sesuatu padanya. Ditambah beberapa hari belakangan ini aku merasa aneh, sepertinya ada yang mengikutiku, pasti itu orang-orang tukang  pukul itu.

 

Ku lihat pria itu berjalan di depanku. Ya, pria itu… bahkan aku tak sudi menyebut namanya lagi. Beberapa hari setelah kehadirannya di sekolah ini, ia sudah menjadi pembicaraan anak perempuan satu sekolah. Cih, mereka tidak tahu sosok sebenarnya dari orang yang mereka elu-elukan itu.

Ku lihat ia menyebrang jalan sambil memakai earphonenya, tetapi tampaknya ia tak menghiraukan kalau lampu sudah kembali hijau, aku baru sadar kalau ada mobil yg melaju cepat menuju arahnya. Tampaknya ia tak menyadarinya, aku berlari kearahnya lalu mendorongnya dan…

”BRAAKK!”

 

Kurasakan tubuhku terhempas. Yah, ku rasa ini waktu yg tepat untukku pergi. Aku memang menginginkannya dari dulu, menyusul ibuku disana. Aku tersenyum senang saat berlari menyelamatkan  Kyuhyun tadi, yah hitung-hitung amal sebelum mati. Selamat tinggal ayah, aku sudah tidak kuat lagi, selamat  tinggal Donghae, maafkan nuna tidak bisa menjagamu lagi. Sudah cukup sampai disini saja, selamat tinggal sahabatku, Hyerin. Entah kenapa aku masih menyebutmu sahabat, aku tak yakin kau akan menangisiku dipemakamanku nanti. Selamat tinggal Kyuhyun, ku harap kau melihatku untuk terakhir kalinya, apa yang aku lakukan untukmu.  Dan selamat tinggal penagih hutang, aku bebas… dan semuanya menjadi benar-benar gelap.

.

.

Kepalaku terasa sakit sekali, aku mencoba membuka mataku dan langit-langit ruangan yang berwarna putih menyambutku. Ku dengar suara derap langkah menghampiriku.

“Jiyoung!”

“Jiyoung! Kau sudah sadar? Kau bisa mendengarku? Jiyoung katakan sesuatu…”

Ya tuhan, aku belum mati… kenapa kau tega sekali padaku?

“Jiyoung, maafkan aku… Aku tahu apa yang kulakukan padamu tidak bisa kau maafkan, tapi aku mohon dengarkan aku, aku memang sangat bodoh sudah pernah menyakitimu, mencampakkanmu, dan itu adalah kesalahan terbesarku. Tetapi aku sadar kau sangat berarti bagiku, aku mencintaimu… ku mohon jangan membahayakan dirimu sendiri demi aku, aku mohon Jiyoung-ah…”

Tangan Kyuhyun yang hangat menggenggamku. Sambil terus memandang langit-langit ku tahan air mata yang ingin keluar dari sudut mataku.

“Jiyoung-ah…”

Sial! Bertahun-tahun aku berusaha melupakannya, merasakan sakit yang ditinggalkannya, namun dengan hanya sedikit ucapan dan sentuhan darinya membuatku ingin memeluknya.

“Lebih baik kau pergi, aku tidak apa-apa,”

“Jiyoung-ah aku mohon jangan seperti ini, aku mencintaimu Han Jiyoung, aku mohon maafkan a–“

“Bohong! Jangan membohongiku lagi, sudah cukup. Aku tahu kau hanya merasa hutang budi karena aku telah menyelamatkanmu. Aku melakukannya hanya karena refleks, tidak perlu merasa hutang budi. Selesai, kau boleh keluar.”

Kyuhyun tampak tertegun sebentar, lalu ia merendahkan tubuhnya, berlutut di lantai menghadap ke ranjangku.

“Han Jiyoung, aku mohon maafkan aku. Aku tahu aku telah menyakitimu terlalu banyak, aku tahu aku seorang bajingan di matamu. Tapi aku mohon, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, untuk menebus semua kesalahanku padamu. Aku akan melakukan apapun untukmu Jiyoung-ah, tolong berikan aku kesempatan…”

Kyuhyun berlutut, menatapku, mengiba, dan menangis. Seorang Cho Kyuhyun… Menangis?

“Kenapa kau lakukan itu?” Ku pandang wajahnya, sepertinya luntur sudah pertahananku.

“Maafkan aku Jiyoung-ah, aku memang bajingan. Pada awalnya memang aku melakukan taruhan dengan teman-temanku karena gengsi dan aku sering diolok-olok mereka masalah wanita, jadi aku mengiyakan taruhan mereka untuk menidurimu dalam waktu satu bulan,”

Ku telan bulat-bulat pernyataanya, kenapa sakit sekali rasanya?

“Tapi dengarkan aku Jiyoung-ah, setelah aku mendekatimu dan mengenalmu, aku tahu kau begitu tulus mencintaiku, kau berbeda dari gadis lainnya yang hanya mendekatiku karena paras dan uang. Aku ragu karena egoku kepada teman-temanku lebih besar dibanding dirimu, maafkan aku. Setelah kau mengetahui tentang taruhan itu aku merasa sangat malu padamu sampai aku tidak berani untuk sekedar melihatmu.”

“Setelah itu, kau pindah sekolah. Aku tahu kau juga menghindariku, lalu berbagai masalah muncul menimpa keluargamu. Aku… Maafkan aku yang hanya diam saja saat kau diolok-olok teman-teman di kelas, saat kau bekerja siang dan malam begitu keras, saat para penagih hutang itu dengan seenaknya membentakmu, maafkan aku yang pengecut ini, aku juga meresa sakit saat aku diam saja.”

Aku terperangah mendengar jawabannya, aku melihatnya, raut bersalah dan cemas terpancar dari wajahnya, menunduk lemas dan badannya sedikit bergetar. Lelehan air mata sudah keluar deras dari sudut-sudut mataku. Aku menangis didepannya, dan dia juga menangis bersamaku.

“Kau tahu?”

“Ya, aku tahu… aku tahu semuanya Jiyoung-ah. Aku mengikutimu, bahkan sampai kau mematikan lampu untuk pergi tidur,” jawabnya. 

”Aku ingin bersamamu lagi, ku mohon berikan aku kesempatan Jiyoung-ah. Mulai sekarang aku akan selalu berada disisimu, aku akan membantu pekerjaanmu, aku akan menghadapi para penagih hutang itu, aku akan menemanimu, aku akan…”

 “Sudah cukup,” ucapku, lalu beranjak turun, memeluknya…

”Aku lelah, kenapa kau baru datang sekarang, kenapa aku harus mengalami ini semua, apa aku tampak menjijikan dihadapanmu, kenapa tuhan tega sekali padaku,” rintihku. Tanpa sadar aku sudah terisak hebat dipelukannya. ”Maafkan aku, ini bukan salahmu Jiyoung-ah, aku yang pengecut,”  katanya sambil mengeratkan pelukanku.

Kembali ku tatap matanya yang ku rindukan.

“Kau tahu, seandainya kau mengucap kata maaf dua tahun lalu, aku akan langsung memaafkanmu.”

“Aku bodoh, itu kesalahan terbesarku,” Kyuhyun mengelus sisi wajahku.

“Aku… aku tidak ingin berjanji, aku ingin membuktikan apa yang aku katakana padamu, ijinkan aku membuktikannya padamu,” Aku mengangguk pelan merasakan ketulusannya.

 

“Kyuhyun-ah, apa kau tahu, aku terlalu mencin—“

“Ijinkan aku mengatakannya duluan, aku mencintaimu Han Jiyoung, aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

 

Tampaknya, keinginan ingin matiku tadi hilang begitu saja.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s